Sabtu, 27 Desember 2008

Duhai Para Suami....

Eramuslim Publikasi 29/05/2003 11:01 WIB

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap istri, dan aku adalah orang yang paling baik diantara sekalian terhadap istri" (At-Turmudzi)

Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke rumah. Disela-sela kemacetan, saya melihat dengan jelas,seorang lelaki dengan kasar menyuruh perempuan yang sedang diboncengnya untuk turun dari motor. Tampak sekali perempuan itu ketakutan. Air matanya bercucuran, dengan gemetar hati-hati dia turun. Rupanya yang menyebabkan lelaki itu kalap adalah tangisan rewel sang bayi yang sedang digendong. Setelah menumpahkan sumpah serapah pada perempuan tak berdaya itu, dengan seenaknya dia pergi. Tinggallah perempuan itu kebingungan, menggendong bayi mungil yang menangis tak kunjung berhenti. Dua ibu dalam angkot yang sedang saya naiki, spontan turun. "Sabar ya dek, biarin aja si keparat itu pergi" dengus si ibu berbaju biru. "Adek mau kemana? Sekarang adik pulang, kasihan anaknya nangis terus" kali ini ibu yang berbaju hitam bertanya.

Perempuan itu gemetar, kelu lidahnya berujar "Ibu, boleh saya pinjam uang 500 untuk ongkos. Suami saya pergi begitu saja tanpa memberi uang". Ibu-ibu tadi spontan membuka tas dan memberinya uang. Dan air mata itu, melimpahi kami rasa kasihan. Hari lain, dalam bis yang mengantarkan saya ke kampung halaman. Di sebelah saya duduk perempuan sederhana, berpakaian sangat sederhana tanpa bawaan yang berarti, hanya mengepit tas kresek berwarna hitam. Tapi yang tidak sederhana, sejak duduk tadi lirih mulutnya berucap "Laa hawlaa Walaa Quwwata Illa billah".

Dalam kesempatan selanjutnya saya mengetahui ia sudah berkeluarga dan mempunyai beberapa anak. Suaminya menganggur, dan ia yang menanggung beban nafkah untuk keluarga dengan menjadi buruh kasar di pasar kebayoran. Tapi bukan itu yang membuat dia kurus kering dan sakit-sakitan. Perilaku kasar suaminya yang sering menganiaya dan melecehkannyalah yang membuatnya sangat tersiksa.

Tanpa risih dia memperlihatkan telapak tangannya yang melepuh akibat banyak sundutan rokok. "Masya Allah, ibu" refleks saya menutup mulut dengan tangan kanan. Dia tertunduk, dan air mata itu, tertumpah begitu mudah."Mbak, saya ditinggalin suami pas hamil 7 bulan". Dia mulai bercerita. "Suami saya tertarik wanita lain yang lebih cantik," tambahnya tanpa beban.

Kini giliran saya memandangnya lekat, seorang perempuan muda yang tegar, hati saya membatin. Saya mengenalnya baru beberapa bulan. Selama itu saya mengagumi pergulatan hidupnya. Perempuan yang kuat, buktinya sekarang dia membesarkan anak laki-lakinya yang berusia hampir setahun seorang diri. Dia bekerja keras meski dengan pekerjaan yang tidak sebanding dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan si kecil."Kalau tidak ada anak ini, entahlah saya mungkin sudah tinggal nama, mati bunuh diri," tambahnya.

Saya kagum dengan ketegarannya, tapi ternyata dugaan saya salah, beberapa menit kemudian ia terisak kecil selanjutnya tersedu-sedu. Dan air mata itu, menganak sungai dipipinya yang tak pernah terlihat dipoles bedak.Saya meyakini masih banyak fenomena tidak manusiawi yang dilakukan para suami terhadap istri. Lihat saja berita-berita di media massa, itu baru yang terekspos. Padahal yang tidak muncul ke khalayak ramai pasti lebih banyak lagi. Perlakuan tidak wajar bahkan kekerasan suami terhadap istri bisa dikatakan persoalan internal rumah tangga. Sebuah aib, sehingga sang istri harus memaksakan diri menelan bulat-bulat pil pahit perlakuan suaminya. Saya pernah melihat seorang ibu yang pura-pura bilang baru jatuh dari kamar mandi hingga memar cukup serius di muka tirusnya, padahal banyak orang tahu dia baru saja dihajar sang suami tercinta.

Apa yang menyebabkan suami begitu tega terhadap istrinya? Menurut saya, suami yang demikian tidaklah gentle, karena ia berani hanya pada seorang perempuan. Perempuan yang seharusnya ia lindungi. Perempuan yang seharusnya mendapatkan perlakuan yang baik karena telah begitu banyak berjasa.

Istri adalah perempuan yang mengandung anaknya dengan susah payah dalam hitungan waktu yang tidak sebentar, setelah itu mempertaruhkan nyawa untuk proses melahirkan. Istrinya yang menyediakan makanan untuk seluruh keluarga, bahkan mungkin menyediakan telinga untuk menjadi pendengar yang baik, menyediakan stock kata-kata yang menghibur ketika suami mendapatkan masalah, bahkan mungkin solusi. Apakah ada alasan setelah istri berbuat yang terbaik untuk keluarganya mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang?

Kepada para suami, ingatlah istri adalah sesuatu yang istimewa. Sayangilah ia, karena ia adalah penyejuk mata, pembangun rumah tangga yang menjelma surga. Bimbinglah istri dengan lemah lembut, karena ia dicipta dengan banyak anugerah mulia. Jangan pernah mencampakkan istri, untuk kondisi apapun, karena ia adalah ibu dari anak-anak yang kau bina secara bersama. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, jangan pernah meruntuhkan madrasah pembentuk karakter bangsa.

Sayangi ia, karena ibumu juga istri dari suami yang menyayangi. Tersenyumlah untuk segala hal yang ia persembahkan kepadamu. Berjanjilah untuk tidak membuatnya mengeluarkan air mata-air mata kedukaan. Tirulah Rasulullah yang selalu berbuat baik kepada para istrinya. Dalam hadistnya beliau menekankan "Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap istri, dan aku adalah orang yang paling baik diantara sekalian terhadap istri" (At-Turmudzi),

Bahkan beliau pernah bersabda: "Barang siapa yang menggembirakan seorang wanita (istri), seakan-akan menangis karena takut kepada Allah. Barangsiapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka". Jadi kepada para suami, tunggu apa lagi?

mahabbah12@yahoo.com/Untuk istri-istri sholehah, bersabarlah!)

Kebijaksanaan Umar Bin Khattab Menjaga Hati Istri

Kebijaksanaan Umar Menjaga Hati Istri

Pada suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khattab ra.hendak mengadu keburukan isterinya. Namun setiba di samping rumahnya, ia mendengar isteri Umar bin Khattab mengeluarkan kata-kata yang keras dan kasar kepada suaminya, sementara Umar tidak menjawab sepatah kata pun.
Akhirnya orang itu berfikir, sebaiknya ia membatalkan saja niatnya.

Ketika orang itu hendak berbalik pulang, Umar baru saja keluar dari pintu rumahnya. Umar segera berteriak memanggil orang itu. Umar langsung berkata kepadanya, "Engkau datang kepadaku tentu hendak membawa satu berita penting!"

Orang itu lalu berkata terus terang ,"Ya sahabat Umar bin Khattab, aku datang kepadamu hendak mengadukeburukkan isteriku terhadapku. Akan tetapi setelah aku mendengar kelancangan isterimu tadi terhadapmu, dan sikap diammu terhadap perbuatannya, aku jadi mengurungkan niatku untuk melaporkan hal itu."

Mendengar perkataan yang jujur itu, Umar tersenyum kecil seraya berkata, "Wahai saudaraku, isteriku telah memasakkan makanan untukku. Dia juga telah mencuci pakaianku, mengurus urusan rumahku, dan mengasuh anak-anakku sehingga tiada hentinya. Maka apabila ia berbuat satu dua kesalahan, tidaklah layak kita mengenangnya, sedang kebaikan-kebaikannya kita lupakan.


Ketahuilah, wahai saudaraku, antara kami dan dia hanya ada dua hari. Kalau kami tidak meninggalkannya dan terbebas dari perangainya, maka dia akan meninggalkan kami dan terbebas dari perangai kami pula."

Setelah mendengar penuturan yang amat bijak dan penuh hikmah itu, orang itu pergi meninggalkan Umar bin Khattab dengan hati gembira dan puas.

source : NN

Agar Umur Kemesraan Itu Bisa Tahan Lama

Publikasi: 21/04/2004 09:48 WIB

eramuslim - Seorang ibu rumah tangga paruh baya (sebut saja Bu Imah) belakangan ini mulai uring-uringan. Pasalnya dia merasakan sikap suaminya yang mulai kendor perhatiannya. Dalam arti, sang suami jarang lagi bertanya-tanya berbagai hal tentang keadaan di rumah. Hal yang dulu sebetulnya menjadi menu harian Bu Imah bila suaminya pulang dari kantor. Termasuk juga saat-saat menjelang tidur. Entah itu pertanyaan seputar keadaan anak-anak, keadaan dirinya, dan juga pertanyaan seputar aktivitas pengajiannya di luar. Pendek kata, Bu Imah merasakan suasana yang hambar serta membosankan dengan sikap pasif suaminya belakangan ini.

“Heran tuh, Mas-ku sudah tidak seperti dulu lagi. Kelihatannya mulai acuh sama aku. Mungkin dia sudah nikah lagi apa iya?” ungkap ibu tiga orang anak yang aseli Tegal itu cemas pada ibu sebelah rumahnya. Dia saat itu curhat panjang lebar tentang kondisi suaminya kepada teman ngobrolnya sehari-hari itu.

Usai diceritakan kisah itu, tetangga Bu Imah cuma mesem-mesem. Dia berusaha meredakan kecemasan hati sobatnya. Sebab tetangga Bu Imah itu tahu, bahwa suami temannya itu orang baik-baik. Rajin ke masjid dan aktif pada setiap kegiatan RT, serta masih aktif memimpin sebuah majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya. Setahu dia juga, bahwa suami Bu Imah adalah tipikal orang yang perhatian dan sayang pada keluarganya. Jadi dia masih berbaik sangka, suami temannya bukan sumber masalah. Tapi yang musti ditelusuri penyebab perubahan sikap suami Bu Imah, malah harusnya digali dari temannya itu sendiri. Bukan mencari-cari akar masalahnya dari si suami.

“Cobalah jeng Imah, introspeksi dulu ke dalam. Mungkin ada sikap-sikap atau perilaku jeng yang kurang disenangi suami, tapi jeng Imah masih sering melakukannya,” nasihat tetangga Bu Imah setelah dia menceritakan kejadian hampir mirip yang pernah menimpa dirinya. Tapi gelombang cobaan itu akhirnya bisa dia atasi, yakni dengan cara dia membenahi dirinya, serta berusaha berkomunikasi secara baik dengan suaminya.

Penggal kisah di atas mungkin pernah atau mirip dengan pengalaman yang sedang kita alami saat ini. Jika terjadi demikian, sebaiknya kita jangan gegabah memvonis kesalahan semata-mata ada di pihak pasangan kita. Nasehat teman Bu Imah bisa jadi benar dan dapat kita contoh sebagai solusi pemecahannya.

Tak jarang para ibu muda abai terhadap hal-hal yang mungkin mereka anggap sepele. Tapi hal-hal sepele itu sebetulnya tidak atau kurang disukai suami. Misalnya meletakkan baju kotor secara sembrono, membiarkan piring-piring atau alat-alat dapur bekas pakai menumpuk di meja, saat suami pulang kerja. Atau barangkali letak kursi di ruang tamu yang semrawut tak tertata, dan lantai dibiarkan kotor. Pemandangan-pemandangan seperti ini, bila kerap terjadi di dalam rumah dan disaksikan oleh orang yang baru pulang bekerja, bisa jadi membuatnya jengkel. Orang yang letih akan tambah letih bila melihat pemandangan yang kurang berkenan di hatinya.

Celakanya, bila keadaan seperti itu diingatkan oleh suami, tak jarang si isteri menjawab ketus. “Maklum lah mas, namanya juga banyak anak. Apalagi gak ada pembantu. Mas gak ngerasain sih, aku ini udah capek banget mas, jadi gak ada waktu lah ngurusi masalah tetek-bengek kayak gitu.” Begitu kurang-lebih jawaban apologi yang kerap terlontar dari kebanyakan ibu muda.

Tentu saja sikap ini tidak kondusif untuk menumbuhkan cinta dan kemesraan hubungan pasangan suami isteri (pasutri). Isteri khususnya, bila kerepotan untuk menangani atau berbenah di rumah, seharusnya menjelaskan kepada suaminya secara baik-baik. Misalnya dia menjelaskan, bahwa saat ini beban kerjanya bertambah, dan mungkin ada baiknya bila mengambil seorang pembantu rumah tangga. Keterus-terangan ini akan lebih baik bila disampaikan isteri kepada si suaminya. Sehingga tidak terjadi saling salah pengertian. Si suami misalnya, menganggap isteri malas atau kurang peduli dengan kebersihan dan kerapihan rumah. Sementara isteri menilai suami terlalu egois, tidak pernah merasakan betapa capeknya berkutet di dalam rumah seharian, menghadapi berbagai macam pekerjaan dan permasalahan rumah tangga.

Keterusterangan masing-masing pasutri, memang diperlukan dalam kehidupan berumah-tangga. Agar kehangatan hubungan pasutri tidak lekas pudar. Di samping tentunya, penting tetap menjaga sikap tidak mudah tersinggung ketika mendapat masukan atau teguran dari salah satu pasangan kita. Dengan kata lain, masing-masing pasangan hendaknya saling menghormati dan sebaiknya berkata santun tatkala mengekspresikan ketidakpuasannya. Ketidakenakan di hati atas kondisi yang terjadi di rumah, tidak perlu dengan reaksi marah atau disikapi dengan muka cemberut. Biasakanlah menggunakan bahasa yang santun dan sejuk terhadap pasangan kita. Bukan hanya ketika dalam suasana puas, tapi juga dalam suasana rumit dan tegang sekalipun.

Satu hal yang barangkali bisa kita jadikan bahan introspeksi. Kita misalnya, sering bisa menahan emosi dan hormat pada orang lain. Atau berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Tapi kenapa kita begitu mudah dan ringannya meremehkan dan menyinggung perasaan pasangan kita? Itupun sering kita lakukan seakan-akan tanpa beban, tanpa perasaan bersalah (guilty feeling). Sehingga kita melakukannya berulang-ulang.

Boleh jadi selama ini mungkin kita selalu memposisikan diri sebagai lawan bukan mitra terhadap pasangan kita. Atau mungkin saja sadar atau tidak, kita selalu menyikapi pasangan kita sebagai kompetitor yang harus dilawan. Ini barangkali salah satu penyebab, kenapa kita selalu out of control ketika mengeluarkan uneg-uneg hati kita. Sehingga tak jarang kata-kata itu terdengar ketus atau pedas. Dan celakanya kata-kata pedas itu kemudian saling berbalas.

Karena itu, alangkah baiknya bila mulai saat ini kita membenahi kembali posisi kita. Bahwa kita harus selalu memposisikan diri sebagai saudara, orangtua, mitra sekaligus teman bagi seluruh anggota keluarga. Sehingga kita akan bisa lebih banyak maklum dan menghormati pasangan kita. Kita akan bisa lebih terbuka dan toleran, serta berupaya menjaga perasaan pasangan kita. Mudah-mudahan dengan begitu umur kemesraan kita bisa tahan lama dan awet, insya Allah.

(sultoni)


First Step ...

Aah akhirnya ...

Rasanya dua kata sederhana itulah yang paling terasa saat ini. Keinginan untuk mebuat BLOG akhirnya tercapai juga mesti baru tahap awal. Dua kendala utama yang pernah mengganjal ... alhamdulillah akhirnya bisa juga terlampaui. Waktu dan koneksi internet ... yup, dua hal itulah yang jadi penganjal selama ini ... namun, sekarang .. yup, saat ini .. di jam 1:40 dini hari, kupuaskan dahagaku untuk menuangkan huruf-huruf yang sudah tersusun lama dibenakku ke dalam tulisan ini.

Sebagai seorang ayah yang baru tiga tahun ini diamanahi seorang anak lelaki yang lucu dan menggemaskan, saya merasa kerdil dengan banyaknya hal baru yang harus dipelajari namun minim pengetahuan mengenai hal-hal tersebut. Bagi anda para ayah, saya yakin punya pengalaman yang sama bukan ... ? Nah, untuk itulah, saya mengajak anda para ayah, untuk berbagi pengalaman dan bertukar fikiran di forum sederhana ini ...

Saya berharap ... dengan pengetahuan yang cukup, kita dapat menjadi kebanggaan bagi junior kita dan keluarga pada umumnya ...

Fathers... let's share ...

Regards,


Fatah Wahyudi